Menurutku, kesendirian itu memang hal yang sangat rumit dimengerti. Banyak orang merasa takut akan kesendirian. Begitupun denganku, mungkin kalian juga. Apalagi seperti musim pandemi saat ini yang segala aktifitas sosial harus dibatasi. Dulu, bagi yang masih sendiri atau tepatnya belum punya pasangan bisa nelfon temen untuk nongkrong bareng untuk mengusir sepi. Lalu, bagaimana dengan hari ini. Bahkan, bisa jadi mereka yang sudah punya pasanganpun mesti berdamai dengan kesendirian.
Sebenarnya, kenapa sih kesendirian begitu menakutkan? Pernah gak sih kita sedikit menyisihkan waktu untuk menemukan jawaban? Benarkah sendiri itu sebuah aib. Menjadi sasaran bullyan kawan atau tetangga. Untuk mereka yang tidak terbiasa sendiri terkadang menganggap kesendirian itu sebagai sebuah kekosongan yang aneh. ‘Kayak orang ilang, ngapa-ngapain harus sendiri, makan sendiri, nonton sendiri, nongkrong sendiri, lalu apa gunanya perusahaan transportasi nyedian tempat duduk dibelakangmu? mending dipotong aja deh ’. Seperti itu kira-kira yang akan terucap ketika ada orang yang terlalu sering beraktivitas sendiri.
Kita pasti pernah beberapa kali mendengar cerita-cerita teman yang dibagikan saat nongkrong
ataupun membaca status di media
sosial orang yang merasa hidupnya bosan. Bosan karena tidak ada hal yang
bisa dikerjakannya. Ataupun merasa kesepian, karena tidak ada orang-orang
disekitarnya. Dan bisa jadi, kita sendirilah yang merasakan hal seperti itu
saat ini. Kita bosan sekaligus malas melakukan sesuatu. Disatu sisi merasa
bosan dengan rutinitas, tapi terlalu malas untuk melakukan hal yang baru.
Ataupun bosan karena tidak melakukan apa-apa sekaligus malas untuk melakukan
apa-apa. Ini membingungkan, tapi yang pernah mengalaminya, pasti mengerti.
Kita, manusia, memang makhluk yang agak susah dimengerti.
Kadang kala, disaat kita sedang bekerja ataupun berkumpul bersama dengan
teman-teman dan kenalan, kita tidak menikmati saat itu dan membayangkan betapa
menyenangkan jika kita bisa menjauh dari sana dan menikmati kesendirian.
Mungkin karena kita tidak menyukai pekerjaan ataupun salah satu teman kita,
bisa juga kita tidak menyukai topik yang sedang dibahas ketika berkumpul
tersebut.
Ketika kita sudah memiliki waktu sendirian di rumah, di kosan ataupun, di kontrakan, kita malah bingung karena
ingin berkumpul bersama dengan teman dan kenalan. Kita bosan karena tidak ada
yang bisa kita dengarkan, kita bicarakan, dan kita lakukan. Dan saat itu kita
membayangkan betapa nikmatnya jika kita saat itu bisa pindah situasi dimana
kita bisa berkumpul dengan teman dan kenalan.
Banyak dari kita yang sering lupa cara untuk menikmati kesendirian. Alih-alih menikmati kesendirian, kita malah berhayal bisa menghilangkan momen kesendirian itu. Kita membenci kesendirian, ketika saat kesendirian itu tiba, dan berharap bisa sendirian ketika kita sedang berkumpul dengan orang lain.
Ada banyak pekerjaan yang menanti dan yang sedang kita
kerjakan. Ada banyak mimpi ingin ingin kita kejar. Ada banyak kenangan yang
ingin kita lupakan. Sibuk. Kita selalu sibuk. Otak kita yang paling sibuk,
sibuk memikirkan masa lalu dan sibuk memikirkan masa depan. Kita sibuk
mengendalikan apa yang berada diluar tubuh kita, tapi kita sering melupakan apa
yang berada di diri kita.
Kita lupa bahwa kesibukan yang kita jalani, itu karena
tangan dan kaki kita bekerja bersama kita. Mata kita dan indra kita yang lain,
fokus menerima informasi disekitar kita. Semua organ kita berkompromi dengan
kita untuk mengejar mimpi yang kita inginkan. Tapi, kita tidak pernah sekalipun
berterima kasih kepada mereka. Pernahkah kita memijat kaki kita sendiri,
berterima kasih karena telah bertahun-tahun melayani keinginan kita berpindah
dari satu tempat ke tempat lain. Pernahkah kita mengusap tangan kita dan
berterima kasih karena telah mengambilkan apapun yang kita butuhkan. Kita
sering berterima kasih kepada orang lain, tapi tidak kepada diri kita sendiri.
Ajah Brahm, dalam bukunya ‘Si Cacing dan Kotoran
Kesayangannya”, mengatakan, ada tiga pertanyaan besar yang perlu kita jawab dalam
hidup ini. Pertama, “kapankah waktu paling penting?”. Kedua, “siapakah orang
paling penting?”. Ketiga, “apa hal yang paling penting untuk dilakukan?”.
Jawaban dari ketiga pertanyaan itu adalah, ‘saat ini’, ‘orang yang bersama
kita’, ‘peduli’. Ketika kita sedang sendirian, saat itu, kita tidak memiliki
orang lain yang bersama kita. Tidak ada orang lain, karena itu, orang yang
paling penting saat kita sendiri adalah diri kita sendiri. Jika kita gabung
jawaban ketiga pertanyaan itu, maka yang harus kita lakukan ketika kita
sendirian adalah “peduli kepada diri sendiri”.
Sesekali, untuk
menikmati kesendirian kita bisa saja menyisihkan waktu sejenak untuk
menikmati keindahan alam di sekitar kita. Bangun pagi, menghirup udara sejuk yang begitu
mendamaikan. menatap ke
langit kuas. Ketika sore
tiba, menikmati kembali semburat oranye yang begitu indah yang lama kita abaika. Jika tempat tinggal kita dekat dengan pantai dan tempat-tempat wisata, atau bahkan
hanya sawah sekalipun, kita hanya
perlu belajar masuk kedalam diri kita sendiri. Alam membuat kita tenang dari keriuhan dunia. Diam,
nikmatilah dan jangan berpikir tentang apapun juga saat kita menikmatinya.
Jadi, ketika kita sendirian, tak perlu lagi kita merasa
bersedih dan merasa kesepian. Nikmatilah waktu sendiri itu untuk peduli pada
diri kita sendiri. Nikmatilah waktu itu untuk memanjakan diri kita sendiri.
Berterima kasih lah kepada tubuh kita. Berterimakasihlah kepada setiap kaki
kita, kepada tangan kita, kepada indra kita, kepada jantung kita, kepada paru-paru
dan semuanya yang bisa kita rasakan. Dan tentunya, dibalik terimakasih kita,
bersyukurlah kepada pencipta kita yang telah memberikan kesehatan kepada tubuh
kita, dan menciptakan nya sesempurna bentuk.

0 Komentar